Indonesia telah menjadi salah satu pelopor global dalam implementasi program bahan bakar nabati (BBN) yang ambisius, dengan transisi wajib dari diesel murni ke B30 (campuran 30% biodiesel) dan kini menuju B35. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi emisi, menghemat devisa negara, dan menstabilkan harga minyak sawit mentah (CPO) domestik.
Meskipun memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi makro yang besar, transisi ke bahan bakar bio yang tinggi ini menimbulkan dampak signifikan pada mesin diesel kendaraan. Biodiesel memiliki sifat pelarut yang lebih kuat dan dapat membersihkan kotoran lama di tangki, yang berpotensi menyumbat filter bahan bakar dan injektor.
Produsen kendaraan dan pengguna perlu memperhatikan beberapa isu utama, termasuk kelembaban dan stabilitas oksidasi biodiesel yang lebih tinggi. Bahan bakar bio rentan menarik air, yang dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba dan korosi pada komponen logam, menuntut pemeliharaan filter dan sistem injeksi yang lebih sering dan ketat.
Untuk mengatasi tantangan ini, produsen kendaraan telah menyesuaikan spesifikasi mesin diesel baru agar kompatibel dengan B35, sementara pengguna kendaraan lama dianjurkan untuk mengikuti panduan perawatan khusus, termasuk penggantian oli dan filter yang tepat waktu. Keberhasilan program BBN bergantung pada kesiapan infrastruktur dan edukasi konsumen.
Intisari: Transisi ke B30/B35 di Indonesia bertujuan mengurangi emisi dan menghemat devisa, namun berdampak pada mesin diesel karena potensi penyumbatan filter, masalah kelembaban, dan korosi; Perlu perawatan filter dan penyesuaian spesifikasi mesin.

